Kamis, 12 Juli 2012

BAKTERI



Bakteri secara genetis diklasifikasikan menjadi 5 grup besar, yaitu Proteobacteria, Cyanobacteria, Spirocheta, Chlamydia, dan Firmicuta. Proteobacteria merupakan grup bakteri terbesar dan merupakan asal usul mitokondria pada eukariota dengan proses endosimbiosis. Cyanobacteria merupakan grup bakteri yang memiliki klorofil dan dapat berfotosintesis. Spirocheta adalah kumpulan bakteri yang berbentuk spiral. Chlamydia adalah bakteri dengan ukuran yang relatif kecil dibanding grup lain dan umum hidup sebagai parasit. Firmicuta adalah bakteri yang umum memproduksi endspora (Purves dan Sadava, 2003).
Isolasi bakteri adalah proses mengambil bakteri dari medium atau lingkungan asalnya dan menumbuhkannya di medium buatan sehingga diperoleh biakan yang murni. Bakteri dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya harus menggunakan prosedur aseptik. Aseptik berarti bebas dari sepsis, yaitu kondisi terkontaminasi karena mikroorganisme lain. Teknik aseptik ini sangat penting bila bekerja dengan bakteri. Beberapa alat yang digunakan untuk menjalankan prosedur ini adalah bunsen dan laminar air flow Bila tidak dijalankan dengan tepat, ada kemungkinan kontaminasi oleh miroorganisme lain sehingga akan mengganggu hasil yang diharapkan. Teknik aseptik juga melindungi laboran dari kontaminasi bakteri (Singleton dan Sainsbury, 2006).
Bakteri memiliki beragam variasi bentuk, seperti coccus, basil, dan spiral. Bakteri dapat hidup soliter maupun berkoloni dan berkembang biak dengan cara membelah diri. Bakteri memiliki habitat yang bervariasi, dari air, tanah, udara, hingga dalam tubuh hewan, misalnya dalam usus manusia. Bakteri ada yang dapat hidup secara anaerob murni dan akan mati dengan adanya oksigen, ada yang bersifat aerob dan memerlukan oksigen untuk metabolismenya, dan ada yang bersifar aerob fakultatif yaitu dapat hidup pada kondisi anaerob, tapi bila ada oksigen, metabolismenya bersifat aerob  (Betsy dan Keogh. 2005).
Bakteri di alam umumnya tumbuh dalam populasi yang terdiri dari berbagai spesies. Oleh karena itu, untuk mendapatkan biakan murni, sumber bakteri harus diperlakukan dengan pengenceran agar didapat hanya 100-200 bakteri yang ditransfer ke medium, sehingga dapat tumbuh menjadi koloni yang berasal dari bakteri tunggal.
Ada beberapa metode untuk menginokulasi bakteri sesuai dengan jenis medium tujuannya. Pada medium agar tegak, dilakukan metode tusuk menggunakan jarum ose. Pada medium agar miring, dilakukan metode gores dengan menggunakan loop ose. Pada medium petridisk, dapat digunakan metode streak plate (metode gores), pour plate (metode tuang) atau spread plate (metode sebar) Setelah inokulasi, dilakukan proses inkubasi, yaitu menyimpan medium pada alat atau kontainer ada temperatur tertentu dan periode tertentu, sehingga tercipta lingkungan yang menyediakan kondisi cocok untuk pertumbuhan bakteri.  (Harley dan Presscot, 2002).
Metode gores atau streak plate menggunakan loop ose dan menggoreskannya ke permukaan medium agar dengan pola tertentu dengan harapan pada ujung goresan, hanya sel-sel bakteri tunggal yang terlepas dari ose dan menempel ke medium. Sel-sel bakteri tunggal ini akan membentuk koloni tunggal yang kemudian dapat dipindahkan ke medium selanjutnya agar didapatkan biakan murni.
Metode tuang atau pour plate dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan mencampur suspensi bakteri dengan medium agar pada suhu 50ÂșC kemudian menuangkannya pada petridisk atau dengan menyemprotkan suspensi pada dasar petridisk, kemudian menuang medium agar keatasnya dan diaduk. Setelah agar mengeras, bakteri akan berada pada tempatnya masing-masing dan diharapkan bakteri tidak mengelompok sehingga terbentuk koloni tunggal.
Metode sebar atau spread plate dilakukan dengan menyemprotkan suspensi ke atas medium agar kemudian menyebarkannya secara merata dengan trigalski. Dengan ini diharapkan bakteri terpisah secara individual, kemudian dapat tumbuh menjadi koloni tunggal.
Metode pemaparan pada udara terbuka adalah metode untuk mengisolasi bakteri udara. Metode ini sangat simpel, yaitu dengan memaparkan medium pada udara terbuka, dengan harapan ada bakteri yang menempel dan kemudian akan tumbuh menjadi koloni.
Betsy dan Keogh. 2005. Microbiology Demystifed. McGraw-Hill Publisher. USA.
Harley dan Presscot. 2002. Laboratory Exercise in Microbiology. McGraw-Hill Publisher. USA.
Postlethwait dan Hopson. 2006. Modern Biology. Holt, Rinehart and Winston. Texas.
Purves dan Sadava. 2003. Life The Science of Biology 7th Edition. Sinauer Associates Inc. New York.
Singleton dan Sainsbury. 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular Biology 3rd Edition. John Wiley and Sons. Sussex, England.
Dalam mempelajari mikrobia tidak bisa dilakukan secara kasat mata. Sedangkan dalam suatu lokasi yang menurut manusia sudah cukup kecil, disana masih terdapat bakteri dalam jumlah besar dan juga bermacam-macam jenisnya. Selain itu, di alam  mikrobia pada umumnya tidak hidup tersendiri sebagai individu tunggal dan terlepas dari spesies yang lain. Mikrobia lebih sering ditemukan dalam bentuk koloni dan bersama-sama dengan mikrobia yang lain(Seiler, 2000). Oleh karena itu, dalam mempelajarinya, bakteri harus diambil dari alam lalu diisolasikan dalam suatu biakan murni. Biakan murni adalah biakan yang hanya berisi 1 jenis bakteri(Pelczar et al.,1988).
Ada berbagai cara untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni yaitu, cara pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan atau penggoresan, cara penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada hewan. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan(Waluyo, 2007).
Untuk metode streak plate misalnya, mikrobia diletakkan dalam pada ujung plate menggunakan ose,lalu digoreskan pada permukaan medium agar tersebut dengan pola tertentu yang khas. Ada pula metode pour plate atau penuangan. Metode ini dapat digunakan untuk penghitungan bakteri secara langsung. Karena sebelum dituang bakteri tersebut diencerkan terlebih dahulu. Sehingga syarat penghitungan langsung yaitu dalam 1 media terdapat 30-300 koloni dapat terpenuhi(Prescott et.al.2008).
Metode pengenceran yaitu dengan mengencerkan misalnya 1 ose bakteri dengan air. Lalu hasil pengenceran tersebut diencerkan lagi dengan beberapa ketentuan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi konsentrasi bakteri(Barazandeh,2008).

PEMBAHASAN
Ketiga metode ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Misal untuk streak plate, metode ini dalam pelaksanaannya cukup sulit untuk dilakukan. Karena kita harus hati-hati dalam menggoreskan ose ke medium. Jika pada saat penggoresan, medium terluka akan mengacaukan data, kerena hasil isolasi sudah tidak akurat lagi, diragukan kevalidannya. Hasilnya diragukan karena, luka pada medium yang permukaan lebih rendah dari permukaan seharusnya dapat ditumbuhi mikrobia. Dan mikrobia tersebut dengan keberadaanya yang di bawah permukaan seharusnya, akan manimbulkan asumsi bahwa mikrobia tersebut juga bersifat mikroaerofilik. Padahal seharusnya sifat mikrobia tersebut adalah aerob.
Tetapi selain kekurangan tersebut, metode ini memiliki kelebihan yaitu koloni yang dihasilkan adalah single koloni atau 1 koloni hanya dari 1 spesies saja. Selain itu kontaminan mudah dibedakan. Karena pada metode ini ose digoreskan dengan pola tertentu, maka koloni yang tumbuh diluar pola tersebut dapat dinyatakan sebagai kontaminan.
Metode pour plate, metode ini dilakukan dengan mengencerkan koloni bakteri lalu dituangkan kedalam cawan petri baru dtuangkan pula medium agar yang masih cair. Teknik ini akan menyebabkan mudah timbulnya spreader yaitu koloni yang berbeda saling menumpuk. Hal ini bisa dihindari dengan membuat koloni tersebut lebih encer lagi, sehingga pada saat dituang koloni yang ada hanya sedikit dan kemungkinan ada spreadpun dapat dikurangi. Kekurangan yang lain dari metode ini adalah kontaminan sulit dibedakan karena semuanya dituang secara homogeny. Hal ini dapat dihindari dengan selalu bekerja dengan teknik aseptis. Kelebihan dari metode pour plate adalah tekniknya mudah dilakukan. Dan, karena sampel dikocok homogen maka bakteri aerob maupun anaerob dimungkinkan dapat hidup.
Metode surface plate, tentu saja metode ini dapat dilakukan untuk memisahkan mikrobia aerob dengan mikrobia yang lain. Karena jika dituangkan pada permukaan medium, bakteri yang paling diuntungkan adalah bakteri aerob. Tetapi metode ini memiliki kekurangan yaitu kontaminan sulit dibedakan, karena sampel diratakan pada seluruh permukaan.
VI.             KESIMPULAN
Ada beberapa metode untuk mengisolasi bakteri diantaranya metode streak plate, surface plate dan pour plate. Metode streak plate tekniknya sulit dilakukan namun kontaminan mudah dibedakan. Metode surface plate dapat digunakan untuk memisahkan mikrobia aerob dengan yang lain, tetapi kontaminan sudah dibedakan. Metode pour plate, mudah dilakukan dan dapat ditumbuhi mikrobia aerob maupun anaerob tetapi kontaminan sulit dibedakan.

VII.          DAFTAR PUSTAKA
Barazandeh, N. 2008. Microbiology Titles. Jerman. Springer-Verlag Berlin Heidelberg Media , pp 9-11
Pelczar, M.J.Jr, and E. Chan.1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit UI Press. Jakarta. p:23-24.
Prescott, L. M, J. P. Harley, dan D. A. Klein. 2008. Microbiology. 7th Ed. McGraw-Hill Book Company Inc. USA, p: 113-116
Seiler, J. P. 2000. Good Laboratory Practice. Swiss. Springer-Verlag Berlin Heidelberg Media , p 61.
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang, p: 61-67.

FiSIOLOGI HEWAN



        Hasil dari kenaikan suhu di tubuh. Jumlah panas yang akan di transfer keluar bergantung pada bagian permukaan, perbedaan suhu dan hantaran panas di bagian tubuh hewan. Pada hewan besar (gajah) memiliki permukaan yang kecil untuk badannya yang besardan panas akan naik secara perlahan sebagai reaksi dari panas lingkungan, sebaliknya hewan dengan permukaan besar  dengan perbandingan massa yang kecil akan menaikkan panas lebih cepat. Jika suhu berdeda antara lingkungan dan hewan dengan ukuran tubuh kecil, aliran panas yang sangat kecil akan keluar dari tubuh. Penyekat seperti bulu binatang, banyak dan lapisan lemak mempunyai suhu konduktivitas yang sangat rendah dan membantu mengurangi  aliran panas. Karakteristik regulasi  penjumlahan suhu binatang dapat juga mengatur perubahan panas diantara diri mereka dan lingkungan menggunakan pengaturan yang biasa atau pengaturan otomatis.  
              Pengaturan yang biasa digunakan hewan ketika mereka pindah dari lingkungan yang biasa mereka tempati, ketika suhu berubah hasilnya adalah suhu maksimal dari tubuh. Sebagai contoh ular atau reptil lainnya memilih untuk berjemur  pada waktu matahari muncul hari daripada matahari terik, tetapi mungkin menghindari   panas siang hari ketika sinar matahari sangat terik. Pengaturan otomatis digunakan ketika suhu pada kulit, kaki dan tangan dikontrol oleh jumlah aliran darah di area tubuh. Penyempitan arteriola membawa kekulit dan menjaga panas darah dari keadaan dingin yang ektrim dan menjaga panas tubuh. Pengaturan otomatis dapat juga digunakan untuk menyerap panas dari kenaikan jumlah aliran darah pada permukaan jaringan. Disamping permukaan kulit, darah akan mendekatkan suhu pada keadaan seimbang dengan lingkungan. Isolasi dari lapisan lemak di paus adalah contoh yang baik untuk mengetahui bagaimana akibat dari pengaturan otomatis pada pengaturan suhu tubuh. Permukaan paus di laut akan memperluas aliran dari darah pada lapisan lemak untuk menyerap radiasi panas dari matahari. Ketika menyelam sampai kedalaman yang dingin paus menarik pembuluh darah mereka dan mengurangi  aliran darah untuk lapisan lemak jadi panas dan tidak kehilangan panas dari permukaan tubuh. aklimatisasi juga merupakan metode yang mengatur pertukaran panas, tetapi dalam melibatkan perubahan kualitas isolasi atau efektivitas pembuangan panas akibat paparan jangka panjang baik suhu tinggi atau rendah

perubahan suhu mempengaruhi molekul individu dan fungsi enzim
variasi suhu dapat menyebabkan perubahan pada tingkat molekul. adaptasi membran homeovisccas terjadi sebagai akibat dari perubahan suhu. membran sel dan fungsi banyak hUbungannya dengan membran sel yang sensitives terhadap perubahan suhu. suhu rendah menyebabkan membran untuk memasukkan gel seperti fase dengan viskositas membran sangat tinggi. suhu tinggi, di sisi lain, menyebabkan menbrane untuk memasuki fase cairan hiper dengan viskositas sangat lambat. perubahan suhu awalnya akut mengakibatkan perubahan polaritas membran dan fluiditas. di sisi lain, setelah aklimatisasi terhadap suhu tinggi dan rendah adaptasi homeoviscous sehingga menyebabkan polarisasi lipid serupa dan viskositas membran pada kedua suhu.
variasi suhu menyebabkan perubahan tertentu dalam enzim. laju reaksi enzimatis dikontrol perubahan suhu karena. proses ini disebut aklimatisasi enzim. aklimatisasi enzim dapat terjadi pada struktur molekul dari satu atau lebih enzim, perubahan kualitas enzim, atau faktor lain yang mempengaruhi kinetika enzim (untuk konduksi saraf misalnya)

ectotherms dan bagaimana mereka mengatur suhu?
ectotherms adalah hewan yang menghasilkan panas metabolik pada tingkat rendah dan mengandalkan terutama pada kondisi termal lingkungan mereka. mereka mempertahankan suhu tubuh yang sering sama atau tergantung pada suhu lingkungan sekitarnya dan cenderung memiliki tingkat metabolisme yang lebih rendah sebuah suhu rendah dan tingkat metabolisme yang lebih tinggi pada suhu yang lebih tinggi. ectothermal yang biasanya hidup di suhu dingin memiliki suhu tubuh rendah, mempertahankan metabolisme yang memadai pada tingkat yang sangat rendah af aktivitas enzim dan memiliki enzim yang dapat berfungsi pada suhu rendah. ectotherms yang biasanya hidup di suhu hangat berfungsi pada tingkat yang sangat rendah metabolisme dan sangat bergantung pada peraturan perilaku untuk mengontrol suhu tubuh mereka. reptils tertentu juga menggunakan kontrol otonom untuk mengatur suhu tubuh. misalnya iguana laut Galapagos mengatur denyut jantung dan aliran darah selama menyelam ke air dingin untuk mengurangi jumlah panas yang hilang pada jaringan permukaan (kulit)
sering lebih sulit bagi ectotherms untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem lingkungan dingin atau panas. kondisi yang sangat panas tidak sering dikunjungi oleh ectotherms. ectotherms paling tidak pernah mengalami ekstrem tersebut karena adanya maksimum termal kritis, suhu di atas yang kelangsungan hidup jangka panjang tidak mungkin
ectotherms mengatasi dingin yang ekstrim
suhu beku dan dingin yang berbahaya untuk semua organisme hidup karena jika kristal es mulai terbentuk dalam sel, kristal akan terus tumbuh dalam ukuran sebagai kemajuan pembekuan sampai akhirnya menyebabkan sel untuk pecah.
  hewan tidak diketahui bertahan pembekuan lengkap jaringan, tetapi beberapa ectotherms telah datang dekat. membekukan mekanisme toleransi digunakan oleh beberapa ectotherms yang benar-benar membekukan dan tetap hidup. beberapa spesies kumbang dapat menahan suhu beku karena mereka memiliki cairan ekstraseluler yang mengandung zat yang mempercepat pembentukan kristal. sebagai hasilnya s pembentukan kristal lebih raoid luar sel, konsentrasi zat terlarut di dalam sel meningkat, menurunkan titik beku intraseluler. sel darah merah, ragi, dan sperma dapat menahan suhu beku menggunakan mekanisme ini, asalkan konsentrasi ion intraselular tidak mendapatkan cukup tinggi untuk menyebabkan kerusakan pada organel sel.
pembekuan strategi penghindaran digunakan oleh ectotherms lain untuk mencegah pembekuan. menghindari pembekuan ini biasanya ditandai dengan pendinginan atau adanya zat antibeku. pendinginan diamati pada ikan yang hidup di suhu air di bawah titik beku cairan tubuh mereka. mereka tetap dicairkan karena kristal es yang tidak dapat membentuk karena kurangnya inti yang dibutuhkan untuk memulai kristalisasi. zat antibeku dicirikan oleh kapasitas mereka untuk menurunkan titik beku cairan tubuh. gliserol, yang hadir dalam berbagai jenis arthopods dan serangga adalah contoh dari sebuah antibeku yang telah ditunjukkan untuk menurunkan titik beku ke level-47C

heterotherms dan bagaimana mereka mengatur suhu?
heterotherms adalah binatang yang mampu berbagai tingkat produksi panas endotermik, tapi umumnya tidak mengatur suhu tubuh dalam waktu sesempit berbagai sebagai endotermik. heterotherms secara luas dibagi menjadi dua katagori, temporal ang heterotherms daerah. heterotherms temporal adalah kategori yang luas dari hewan yang suhu sangat bervariasi dari waktu ke waktu dan mungkin menunjukkan fluktuasi suhu harian. unta berperilaku seperti heterotherms duniawi karena mereka memungkinkan suhu tubuh mereka berfluktuasi sepanjang hari panas menyerap siang hari dan melepaskannya di malam hari.
heterotherms daerah dicirikan oleh fakta bahwa mereka dapat mencapai suhu inti yang tinggi, sementara jaringan perifer dan ekstremitas mendekati suhu kamar. bentuk paling umum dari heterothremy daerah ditemukan di antara hewan yang mampu melestarikan panas yang dihasilkan oleh aktivitas otot. beberapa jenis serangga terbang memerlukan otot terbang mereka untuk menjadi pra-dipanaskan sampai suhu tertentu sebelum mereka bisa terbang dengan sukses. selama penerbangan, serangga ini dapat mencapai suhu tubuh relatif tinggi, sementara saat istirahat suhu tubuh mereka akan mencapai kesetimbangan dengan suhu kamar.

ikan tertentu, seperti ikan tuna dan beberapa hiu yang disebut sebagai pemanasan bertubuh heterotherms karena kemampuan mereka untuk mempertahankan relatif konstan, suhu inti tinggi. kemampuan ikan ini untuk mencapai suhu seperti ini tergantung pada organisasi.


Kamis, 17 Mei 2012

Polemik Enterobacter Sakazakii


            Adanya penelitian yang menyebutkan bahwa tercemarnya susu formula oleh Enterobacter Sakazakii membuat semua orang tua di Indonesia dilanda kekhawatiran luar biasa. Pasalnya bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi.
Ini diawali dari penelitian yang dilakukan di IPB oleh dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Dr. Sri Estuningsih.  Penelitiannya dimulai pada tahun 2003 dengan menggunakan 22 sample produk susu formula yang beredar di masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa, 5 sample diantaranya terdapat bakteri E. sakazakii. Sample kemudian diujicobakan pada mencit (bayi tikus), dengan pemberian dosis tertentu, hasilnya menunjukkan terjadi pengaruh pada jaringan otak mencit. Hebohnya E. sakazakii dimulai ketika hasil penelitian ini  dipaparkan pada Seminar Hasil Penelitian IPB tahun 2007 dan diunggah untuk dipublikasikan secara luas melalui website IPB pada tahun 2008. Keadaan ini memuncak ketika David M.L Tobing, advokat sekaligus bapak dua anak balita mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar IPB mengumumkan merek susu formula yang tercemar Enterobacter Sakazakii.
Tidaklah salah pernyataan yang yang dikemukakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendiknas Djoko Santoso bahwa penelitian yang dilakukan pihak IPB adalah otonomi kampus yang harus dihormati. Jika kita amati IPB sebagai instansi pendidikan tidak akan melakukan penelitian hanya untuk menjatuhkan instansi lainnya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Rektor Institut Pertanian Bogor Herry Suhardiyanyo bahwa penelitian yang dilakukan peneliti dari IPB Dr Sri Estuningsih merupakan penelitian isolasi yang bertujuan mempelajari tentang virulensi dan risiko yang ditimbulkan oleh bakteri E. sakazakii.
Persoalannya, masyarakat yang terlalu cepat mengambil kesimpulan dari penelitian yang diumumkan tanpa mencari informasi mendalam tentang apa itu Enterobacter Sakazakii.. Enterobacter sakazakii merupakan bakteri gram negatif anaerob fakultatif, berbentuk koliform (kokoid), dan tidak membentuk spora. Sampai tahun 1980 E. sakazakii dikenal dengan nama Enterobacter cloacae berpigmen kuning. Bakteri E. sakazakii berkembang optimal pada kisaran suhu 30-40 derajat Celcius dan dapat mati pada suhu diatas 70 derajat Celcius. Kontaminasi E. Sakazakii pada susu formula diperkirakan terjadi pada saat proses produksi.Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan industri makanan (pabrik susu, coklat, kentang, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembap. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk. Laporan mengenai infeksi E. sakazakii menunjukkan bahwa bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi. Kelompok bayi yang memiliki risiko tertinggi terinfeksi E. sakazakii yaitu neonatus (baru lahir hingga umur 28 hari), bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hal ini sangat penting diperhatikan oleh para ibu rumah tangga yang perduli terhadap kesehatan anggota keluarganya.
Tidak mempublikasikan merek susu yang tercemar E. sakazakii adalah tindakan yang tepat , karena jika merek dipublikasikan dapat menyebabkan polemik baru yang akan bermunculan contonya para peneliti menjadi takut melakukan percobaan baru karena kode etik yang mereka miliki sebagai peneliti hancur karena masyarakat terlalu cepat menyimpulkan terhadap penelitian tanpa mencari fakta yang ada sehingga terjadi salah paham yang bisa menyebabkan gugatan hukum , lalu bagaimana nasib pekerja dan perusahaan yang terkait jika produk susu yang mereka produksi tercemar E . sakazakii. Sedangkan E. sakazakii dapat mati pada suhu 70 derajat Celcius. WHO (World Health Organization), USFDA dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril.
Memasak sesuatu dengan suhu, takaran, dan kebersihan  yang tepat merupakan salah satu pengendali perkembangbiakan bakteri berbahaya yang dapat menimbulkan berbagai penyakit.

created by: endah lestari